28.8 C
Indonesia
Minggu, Desember 15, 2019
No menu items!

Merajut Persatuan Pasca Pemilu 2019

Wajib Baca

Vivo Y dan Vivo V Series, Harga Terbaru & Spesifikasi 2019

GADGET,- Harga Hp Vivo Y dan Vivo V Series, Hadiah Terbaru Desember 2019. Nama smartphone Vivo telah...

Toyota Yaris “GR Yaris” Launching Januari 2020 di Tokyo Auto Salon

Reportasee.com, - "GR Yaris" di Tokyo Auto Salon 2020, Toyota Yaris yang terbaru tengah diketahui kini sudah...

3 Tips Trik Sederhana Cegah Ular Masuk ke Rumah

Reportasee.com, Jakarta - 3 Tips Trik Sederhana Cegah Ular Masuk ke Rumah. Musim hujan, saatnya telur-telur ular,...

OPINI,- Sebuah budaya politik di setiap daerah tentu berbeda-beda. Gabriel Almond, seorang ahli politik dari Amerika Serikat, menyebut bahwa budaya politik yang berkembang pada suatu masyarakat dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu budaya politik parokial, budaya politik subjek dan budaya politik partisipan. Pemilu 2019.

Di negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya sudah melek teknologi bisa dikatakan tergolong dalam budaya politik partisipan. Artinya, masyarakat Indonesia dalam berpolitik sudah memiliki kesadaran yang tinggi, aktif dalam setiap kegiatan politik, dan ikut menilai produk-produk politik.

Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas warganet di berbagai media sosial. Dari berbagai kalangan turut meramaikan komentar-komentar tentang kegiatan politik yang berlangsung. Tagar-tagar tentang peristiwa politik juga selalu menduduki trending topic terutama di twitter hampir setiap harinya.

Hal serupa juga terjadi di dunia nyata. Obrolan-obrolan politik menjadi bahan yang tidak ketinggalan baik dengan keluarga, teman kerja, ataupun dengan tetangga.

Seperti dua mata sisi uang, budaya politik partisipan yang berkembang di Indonesia selain berdampak positif juga memiliki dampak yang negatif. Sebuah masyarakat yang partisipan tentu diperlukan untuk mengawal jalannya pemerintahan demi tegaknya konstitusi dan terciptanya pemerintahan yang bersih.

Baca Juga : TKN : Pasca Pemilu 2019 Jadikan Momentum Rekonsiliasi

Namun, tidak dapat dipungkiri, masyarakat berbudaya politik partisipan juga dapat memunculkan dampak negatif. Bisa dilihat dari aktivitas masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya, dari elit politik sampai warga sipil, dari dosen sampai mahasiswa, dari masyarakat kelas atas sampai bawah, semua berkomentar dan bersuara sesuai pikiran masing-masing.

Hal tersebut tentu memunculkan pro dan kontra terhadap apa yang disuarakan. Karena adanya pro dan kontra itulah yang kemudian menjadikan masyarakat Indonesia yang berbudaya politik partisipan ini justru terpecah belah.

Perbedaan pilihan politik sudah melebihi perbedaan kepercayaan, pilihan politik sudah seperti agama tanpa sebuah toleransi. Satu kubu menganggap yang lain salah, kubu yang lain menganggap dirinya paling benar.

Pelaksanaan Pemilu 2019 sudah berakhir, pesta rakyat lima (5) tahunan sudah dilaksanakan, tapi kontradiktif antar kubu masih saja berlangsung, bahkan bisa disebut sebagai puncak suhu politik.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru di Negara Indonesia yang demokrasi ini. Jika melihat ke belakang pada Pemilu 2014, pesta demokrasi juga berlangsung sengit antara dua koalisi yang kemudian menyisakan hubungan yang kurang baik antara pendukung masing-masing kubu.

Tidak hanya di dunia maya seperti Twitter, Facebook, dan Instagram, di dunia nyata juga bisa dijumpai hal-hal negatif dari dampak pemilu 2014, baik itu antar tetangga, antar saudara, antar teman kerja dan sebagainya, sehingga memunculkan hubungan yang kontradiktif.

Dengan berkhirnya pemilu 2019, salah satu harapan utama adalah berakhir juga ketegangan antar masing-masing pendukung, di samping harapan mendapatkan pemimpin yang lebih baik. Mengingat energy yang sudah terkuras sejak jauh-jauh hari sebelum waktu kampanye sampai dengan pelaksanan pemilu.

Tapi pada kenyataannya, meskipun pemilu 2019 sudah berakhir tetap saja ketengan antar masing-masing pendukung masih memanas. Para elit politik di sosial media juga belum bisa meredam keadaan, justru kebanyakan dari mereka malah semakin membuat keadaan tambah panas.

Dari ujaran kebencian, penggiringan opini, menebar berita hoaks, menuduh curang serta menyalahkan berbagai pihak masih bertebaran di media sosial. Mereka pendukung fanatik tidak lelah-lelahnya menebarkan aura negatif.

Tetap tenang, percaya, dan damai

Kawal penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan tetap tenang, percaya, dan damai. Menyampaikan ujaran kebencian, menuduh kecurangan, serta menggiring opini di media sosial itu mudah saja dilakukan.

Tapi,  jangan lupa untuk hargai para pejuang pemilu, dari Petugas KPU, kepolisian sampai Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di berbagai Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh wilayah Indonesia.

Mereka yang mendistribusikan surat suara sampai ke pelosok-pelosok desa, mengorbankan waktunya untuk menjaga surat suara agar tetap aman, merelakan tidurnya untuk pemungutan suara, bahkan tercatat ada yang meninggal dunia sampai ratusan petugas karena kelelahan saat bertugas.

Semua yang mereka lakukan adalah demi sukses terlaksanakannya pemilu. Tidak pantas kalau kemudian dengan mudah menuduh adanya kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Seperti yang sudah terjadi, masing-masing pihak merasa dirinya dicurangi baik oleh lawannya maupun oleh pihak KPU.

Lembaga-lembaga survei sudah melakukan perhitungan cepat (quick count) yang ditayangkan oleh berbagai media massa. Respon dari masyarakat pun berbeda-beda, ada yang pro adapun yang kontra.

Baca Juga : Mendagri Sampaikan Hal Penting Soal Pemilu

Seharusnya quickquant yang dilakukan oleh lembaga survei bisa dijadikan sebagai acuan, boleh percaya boleh tidak, karena tetap saja itu bukanlah sebagai final count. Sehingga tidak memunculkan sikap berlebihan yang justru dapat menambah keadaan menjadi semakin keruh.

Lagi pula, perhitungan cepat yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei bukan pada Pemilu kali ini saja dilakukan. Seharusnya bisa lebih dewasa lagi dalam menanggapinya.

Perlawanan dan permusuhan bukan hal baru untuk orang dewasa. Sejak kecil, anak-anak sudah terbiasa bermusuhan dan berlawanan dengan teman bermainnya. Tapi ada perbedaan antara anak kecil dengan orang tua atau dewasa.

Jika anak kecil pagi bermusuhan, sorenya sudah baikan, tidak ada dendam. Berbeda dengan orang dewasa yang bermusuhan bisa begitu lama sampai bertahun-tahun bahkan sepanjang hidupnya bermusuhan karena hal apapun termasuk perbedaan pilihan politik.

Seharusnya orang dewasa malu, dan bisa belajar dari anak kecil yang tidak ada dendam. Kalau tidak ada yang namanya dendam, pemilu selesai diikuti juga dengan selesainya ketegangan baik antara elite politik maupun pendukungnya.

Merajut Kembali Persatuan

Para elite politik adalah pihak yang harusnya dapat meredam api politik yang masih membara. Jika dilihat di media massa televisi ataupun surat kabar, belum ada aksi atau pernyataan yang membuat adem dari para elite politik.

Justru sebaliknya, para elite politik malah menambahkan bahan bakar sehingga api politik semakin memanas saja. Melalui akun-akun pribadi media sosial para elite politik juga masih menyuarakan tulisan-tulisan yang dapat memprovokasi, ataupun dapat menggiring opini warganet.

Perbedaan menjadi sebuah kata yang melekat pada bangsa Indonesia, karena Indonesia adalah bangsa yang beragam, ragam budaya, ragam agama, ragam suku, ragam ras, ragam bahasa dan banyak lagi ragam lainnya.

Bahkan negara Indonesia berdiri juga karena perbedaan, di mana sumpah pemuda menjadi tonggak awal berdirinya persatuan Indonesia. Perbedaan juga menjadi semboyan bangsa yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Tapi perbedaan itu tidak menjadikan Bangsa Indonesia tidak bisa hidup berdampingan. Dengan kemanusiaan yang beradab dan menjunjung tinggi toleransi, Bangsa Indonesia walaupun berbeda-beda selamanya akan tetap bersatu.

Jadi, jangan hanya karena perbedaan pilihan dalam berpolitik justru memecah belah persatuan yang sudah dirajut sejak dulu kala. Kembali lagi kepada Sila ke tiga (3) Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. ***

*Penulis: Haris Suwondo, Guru di SMPN 3 Banjar.

- Advertisement -
Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Berita Terbaru

Vivo Y dan Vivo V Series, Harga Terbaru & Spesifikasi 2019

GADGET,- Harga Hp Vivo Y dan Vivo V Series, Hadiah Terbaru Desember 2019. Nama smartphone Vivo telah...

Toyota Yaris “GR Yaris” Launching Januari 2020 di Tokyo Auto Salon

Reportasee.com, - "GR Yaris" di Tokyo Auto Salon 2020, Toyota Yaris yang terbaru tengah diketahui kini sudah disiapkan oleh Toyota global.

3 Tips Trik Sederhana Cegah Ular Masuk ke Rumah

Reportasee.com, Jakarta - 3 Tips Trik Sederhana Cegah Ular Masuk ke Rumah. Musim hujan, saatnya telur-telur ular, termasuk ular kobra menetas. Anakan...

Sherina Unggah Foto Dengan Derby Romero, Petualangan Sherina 2 Reborn?

Jakarta, Reportasee.com, - Sherina Unggah Foto Dengan Derby Romero, Petualangan Sherina 2 Reborn?. Sherina Munaf tiba-tiba membuat heboh warganet dengan unggahan fotonya...

Lionel Messi Rajai Hattrick LaLiga Santander

Reportasee.com,- Lionel Messi kembali menjadi raja Hattrick LaLiga Santander. Ia telah menampilkan sihirnya dengan mencetak 3 gol kemenangan FC Barcelona vs Real...
- Advertisement -

Artikel Serupa

- Advertisement -